Untuk mu Wahai sang Creator Kebijakan
Sudah menjadi hal yang pasti bahwa setiap negara memiliki orang-orang yang bertugas untuk memikirkan dan kemuadian mebuat suatu kebijakan, baik itu Undang_Undang ataupun program - program kerja yang lainnya. Sudah banyak di antara begitu banyak kebijakan yang di keluarkan oleh mereka yang membuat masyarakat mengapresiasinya namun banyak pula diantara kebijakan atau PROKER mereka yang menimbulkan banyak kontroversi, mendapat tanggapan yang penuh dengan celaan, cacian, dan hinaan-hinaan lainnya. Sudah sewajarnya kalian mengevaluasi apa yang telah kalian keluarkan untuk negeri kalian. Pikirkan lebih jauh lagi dampak apa yang sekiranya akan ditimbulkan dari kebijakan atau program kalian itu. Alih-alih memecahakan satu pesoalan, eh malah timbul banyak persoalan. Dan itulah yang sekiranya akan terjadi dengan program yang baru saja kalian laksanakan. Sekaligus dalam tulisan ini saya ingin menumpahkan segala kekecewaan saya, sejak pagi tadi saya melihat di sosmed pelaksanaan program kalian itu. "Pekan Kondom Nasional".
Mirisnya lagi kalian melakukannya dengan cara membagikan k****m itu dilingkungan kampus. Sebelumnya juga saya mengapresiasi tujuan baik kalian itu, INGIN menghambat penularan penyakit yang sangat mematikan, HIV/AIDS. Tapi cara yang kalian lakukanlah yang membuat saya dan yang lainnya kecewa. Apalah arti suatu tujuan yang baik namun ditempuh dengan cara yang keji yang menyayat hati bagi siapa saja yang melihatnya. Maaf, orang tua yang ingin memenuhi kebutuhan anaknya adalah suatu tujuan yang sangat mulia tapi kita akan menganggapnya hina jika cara yang ditempuh yaitu dengan bekerja sebagai pela**r. Sudah sepantasnya pula saya menyuarakan aspiras ini sebagai bentuk partisipasi saya sebagai warga negara yang menghendaki kebaikan pada negeri ini. kondomisasi bukanlah jalan yang tepat untuk mengatasi masalah HIV/AIDS. Sadarkah kalian, dengan program seperti itu, secara tidak langsung melegalkan apa yang kita sebut ZINA.
Dengan penuh harap semoga kalian mendengarkan begitu banyak aspirasi semacam ini sehingga membuat kalian memahami bahwa kondomisasi BUKAN SOLUSI. DAn semoga dengan kritik-kritik semacam ini kalian bisa lebih bijak dalam mengeluarkan kebijakan demi masyarakat yang menghendaki KEBIJAKSANAAN. Saya juga sadar bahwa kemungkinan tulisan ini dibaca oleh kalian sangatlah kecil, tapi setidaknya saya sudah berusaha untuk membuang kekecewaan saya, menyuarakan aspirasi saya.
Terima Kasih,,
Mirisnya lagi kalian melakukannya dengan cara membagikan k****m itu dilingkungan kampus. Sebelumnya juga saya mengapresiasi tujuan baik kalian itu, INGIN menghambat penularan penyakit yang sangat mematikan, HIV/AIDS. Tapi cara yang kalian lakukanlah yang membuat saya dan yang lainnya kecewa. Apalah arti suatu tujuan yang baik namun ditempuh dengan cara yang keji yang menyayat hati bagi siapa saja yang melihatnya. Maaf, orang tua yang ingin memenuhi kebutuhan anaknya adalah suatu tujuan yang sangat mulia tapi kita akan menganggapnya hina jika cara yang ditempuh yaitu dengan bekerja sebagai pela**r. Sudah sepantasnya pula saya menyuarakan aspiras ini sebagai bentuk partisipasi saya sebagai warga negara yang menghendaki kebaikan pada negeri ini. kondomisasi bukanlah jalan yang tepat untuk mengatasi masalah HIV/AIDS. Sadarkah kalian, dengan program seperti itu, secara tidak langsung melegalkan apa yang kita sebut ZINA.
Dengan penuh harap semoga kalian mendengarkan begitu banyak aspirasi semacam ini sehingga membuat kalian memahami bahwa kondomisasi BUKAN SOLUSI. DAn semoga dengan kritik-kritik semacam ini kalian bisa lebih bijak dalam mengeluarkan kebijakan demi masyarakat yang menghendaki KEBIJAKSANAAN. Saya juga sadar bahwa kemungkinan tulisan ini dibaca oleh kalian sangatlah kecil, tapi setidaknya saya sudah berusaha untuk membuang kekecewaan saya, menyuarakan aspirasi saya.
Terima Kasih,,
Tidak ada komentar:
Posting Komentar